Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Tuesday, December 1, 2009

Proyek Jalan Tol Internet yang Sarat Hambatan

Mimpi pemerintah membangun jalur tol untuk akses internet masih tersendat-sendat. Sejumlah operator pemenang tender broadband wireless access (BWA) masih ogah-ogahan. Mereka mengeluhkan tingginya harga perangkat teknologi lokal yang lebih mahal ketimbang impor.

Membangun jalan tol internet, ternyata sama sulitnya dengan membangun ruas jalan tol. Tengok saja pelaksanaan proyek pita lebar nirkabel alias broadband wireless access (BWA) di pita frekuensi 2,3 GHz, sebesar 30 MHz. Catatan saja, BWA adalah jalan tol jaringan internet yang menyediakan jaringan data dan internet tanpa kabel dengan kecepatan tinggi. Pemerintah melelang 15 zona penyelenggaran jaringan ini di Indonesia.
Semula, operator dan penyelenggara jaringan internet antusias masuk bisnis BWA ini. Tapi, belakangan, mereka loyo. Antusiasme yang semula mereka tunjukkan di saat-saat awal penyelenggaraan lelang BWA yang digelar Departemen Komunikasi dan Informatika awal 2009 perlahan redup seiring banyaknya kendala yang muncul..
Dari total delapan pemenang, hanya dua perusahaan yang membayar upfront fee dan Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi hingga tenggat 17 November lalu. Yakni, Indosat Mega Media (IM2) dan PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom). Sisanya lamban membayar.
Belakangan ada satu lagi yang membayar pada masa perpanjangan, yakni PT First Media.
Biaya upfront fee dan BHP merupakan syarat mutlak operator mengantongi izin penyelenggaraan jaringan yang sering juga disebut Wimax ini.
Tapi, operator terkesan gamang. Selain teknologi akses pita lebar yang masih terbilang baru, mereka sadar masih banyak hambatan lain. Sejumlah pemenang lelang BWA mengeluh kesulitan mendapatkan perangkat lokal agar bisa memenuhi prasyarat tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
Menurut Sarwoto Atmosutarno, Direktur Utama PT Teikomsel, kesulitan pengadaan perangkat bisa membuat pembangunan infrastruktur tersendat. Padahal, jaringan infrastruktur menjadi komponen utama dalam realisasi proyek dengan nilai penawaran total Rp 484,414 miliar tersebut.
Sarwoto melihat, sejumlah penyelenggara jasa internet maupun operator memang telah memiliki jaringan infrastruktur yang mapan serta kemudahan mendapat pemasok. Namun, tak sedikit pula yang masih harus membangun dan mencari jaringan pemasok nyaris dari nol. Maka, "Saat ini masih terlalu dini untuk melihat prospek bisnis dari Wimax tersebut," ajar Sarwoto, kepada KONTAN pekan lalu.
Sumber di sebuah perusahaan penyelenggara jaringan internet mengungkapkan, saat ini perangkat buatan dalam negeri memang tersedia. Tetapi, harganya masih jauh di atas harga perangkat impor. "Pemenang lelang terbebani biaya perangkat yang di sini bisa dua hingga tiga kali lipat harga di luar negeri," ujarnya.
Meski demikian, rasa optimistis tetap ada. "Bagaimanapun juga BWA memiliki keunggulan kompetitif dalam aspek kecepatan dibanding kabel (wireline)," War Vice President Corporate Communication PT Telkom Eddy Kurnia. "Kesesuaian dengan lifestyle masyarakat urban yang mobile saat ini juga menjanjikan estimasi nilai investasi yang menarik di masa depan," tandasnya.

Sumber: KONTAN

Thursday, November 26, 2009

Layanan Mobile Broadband Indonesia VS Inggris

Tergelitik hati Saya untuk menyajikan perbedaan layanan Mobile Broadband Indonesia dengan salah satu penyedia Mobile Broadband yang ada di Inggris.
Kita cukup ambil satu contoh saja layanan yang ditawarkan di Inggris

Vodafone

Vodafone Inggris menawarkan paket dengan kriteria sebagai berikut:
£15 atau sekitar Rp. 236.000,- per bulan dengan perjanjian kontrak selama satu tahun dan akan mendapatkan quota sebanyak 3GB. Paket ini juga disertakan modem USB gratis.
Setelah penggunaan 3GB habis, maka akan dikenakan biaya tambahan £15 per 1GB yang kita gunakan berikutnya. Kecepatannya? HINGGA 7.2 Mbps.


Dan sekarang kita coba simak layanan yang ada di tanah air tercinta kita. Saya akan ambil harga yang paling mendekati dengan Vodafone tersebut. Dan pilihan Saya jatuh kepada.....

Telkomsel

Harga yang paling mendekati adalah pada paket Advance yakni Rp. 225.000 per bulan. Pada paket ini Telkomsel menawarkan gratis modem, kontrak 1 tahun. Kecepatan HINGGA 512 kbps, dengan quota diberikan sebesar 1GB. Untuk penggunaan melebihi kapasitas 1GB yang disediakan, setelahnya pengguna akan menikmati koneksi Internet tanpa batas dengan kecepatan dibatasi pada 64 kbps saja. Pengguna dapat menormalkan kembali kecepatan dengan hanya melakukan pembelian lagi yaitu Rp. 50.000,- untuk 125 MB dan Rp. 100.000,- untuk 300 MB.

Demikianlah Saya sajikan perbedaan dua penyedia layanan Mobile Broadband Internet. Indonesia vs Inggris atau tepatnya Telkomsel vs Vodafone. Saya pribadi cukup miris melihat perkembangan Internet Indonesia. Bayangkan 1GB vs 3 GB dan 512 kbps vs 7.2 Mbps. Tapi begitulah kenyataanya.

Tuesday, October 27, 2009

bigthink.com: Youtubu untuk Orang Pintar

Di bulan pertama tahun 2008 ini, hadir layanan web Big Think yang menyediakan klip video seperti halnya YouTube. Perbedaannya, jika YouTube memberi kebebasan penuh bagi siapa saja untuk mempublikasikan klip video web-nya di sana, maka Big Think lebih membatasinya bagi mereka yang dianggap kompeten di bidangnya. Berbagai bidang yang dicakup diantaranya, seni, budaya, ekonomi, bisnis, sejarah, teknologi, media, dan masih banyak lagi.Big Think menyediakan ribuan jam klip video yang berisi wawancara atau gagasan besar dari sejumlah pakar di bidangnya. Pengguna yang berkunjung di sana dengan demikian dapat mengetahui apa opini mereka mengenai topik atau masalah yang sedang hangat dibicarakan. Untuk lebih memudahkan pengunjung dalam mencari klip video dengan tema khusus, tersedia dua cara, berdasarkan topik atau pertanyaan. Pengunjung juga dapat merespons gagasan para pakar dengan memberi komentar, bertanya langsung atau bahkan membuat klip videonya sendiri.Pengguna yang ingin berbagi gagasan atau ide besar juga dapat membuat klip video sendiri dan mengajak pihak lainnya untuk mendiskusikan atau memperdebatkannya di sana. Menurut pendiri Big Think, mereka berangan-angan layanan ini dapat menjadi salah satu sumber acuan bagi para mahasiswa atau pelajar dalam menuntut ilmu. Info: www.bigthink.com